Sandiaga Uno Akan Tindak Tegas Diskotek Yang Melanggar Aturan

Keributan pengunjung terjadi di Diskotek Old City, Tambora, Jakarta Barat. Polisi menutup sementara diskotek tersebut untuk kepentingan penyelidikan.

“Menutup TKP dan memasang police line untuk kepentingan penyelidikan,” kata Kapolsek Tambora Kapolsek Kompol Iver Manosoh dalam keterangannya, Senin (23/4/2018).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI siap menindak tegas diskotek Old City jika terbukti ada peredaran narkoba. Pemprov DKI juga menunggu hasil investigasi BNN kerena pelaku keributan positif mengonsumsi narkoba.

“Tegas saja, kita tunggu dari BNN. Begitu ada (hasil investigasi) dari BNN, kita berkoordinasi. Tapi itu kan kita harus tahu dulu dia (pelaku) konsumsinya di situ atau tidak, atau dia konsumsi di luar. Nah itu ada investigasinya dan nanti kita akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (23/4/2018).

Sandiaga menuturkan akan menerjunkan jajarannya untuk membantu penyelidikan kasus tersebut. Menurutya, Pemprov DKI akan terus berkoordinasi.

“Kita harus terus berkoordinasi dengan BNN dan aparat kepolisian,” sebutnya.

Sebelumnya, polisi memeriksa urine salah seorang pengunjung diskotek Old City, Frengky Bata, yang terlibat keributan dini hari tadi. Hasil tes urine, Frengky positif mengonsumsi sabu dan ekstasi.

“Hasil tes urine terhadap Frengky Bata, kasus keributan di diskotek Old City, positif mengunakan ekstasi dan sabu,” kata Kapolsek Tambora Kapolsek Kompol Iver Manosoh saat dimintai konfirmasi.

Keributan itu bermula saat Frengky datang ke diskotek tersebut pada pukul 00.30 WIB tadi. Dia datang bersama tiga temannya, yaitu Marcel, Roby, dan Aliong.

Mereka menuju tempat duduk di bagian bawah. Mereka lalu memesan minuman.

Namun tiba-tiba sekitar pukul 01.30 WIB, Frengky ribut dengan temannya sendiri. Dia memecahkan gelas dan botol di dalam diskotek.

Kepada petugas keamanan diskotek, Frengky mengaku sempat ditodong senjata oleh seseorang yang berada di diskotek. Frengky kemudian terlibat keributan kembali dengan orang yang tak dikenal di luar diskotek.

Akhirnya pihak pengelola Old City menghubungi Polsek Tambora. Polisi kemudian mengamankan Frengky, tapi ketiga orang temannya melarikan diri.

 

Baca juga : Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang

8 WNA Asal Taiwan Sudah Pasrah Dengan Tuntutan Jaksa

Delapan warga negara Taiwan yang menjadi terdakwa dalam kasus penyelundupan satu ton sabu dituntut dengan hukuman mati. Sidang pembacaan tuntutan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (14/3/2018) malam. Kasus ini dibagi dalam dua perkara.

Perkara pertama merupakan penyelundupan sabu dengan terdakwa Liao Guan Yu, Chen Wei Cyuan, dan Hsu Yung Li, yang ditangkap di Banten. Mereka ditangkap saat membawa sabu dalam mobil.

Mereka dinilai melanggar Pasal 114 Ayat 2 juncto Pasal 132 Ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Menuntut supaya majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Liao Guan Yu, Chen Wei Cyuan, dan Hsu Yung Li masing-masing dengan pidana mati,” ujar jaksa Payaman membacakan surat tuntutan.

Sementara itu, perkara kedua merupakan penyelundupan sabu dengan terdakwa Juang Jin Sheng, Kuo Chun Hsiung, Sun Chih-Feng, Kuo Chun Yuan, dan Tsai Chih Hung, yang ditangkap di Kepulauan Riau.

Mereka berperan sebagai awak kapal Wanderlust yang mengantar sabu ke Anyer, Banten.

Kelima terdakwa dinilai melanggar pasal yang sama dengan tiga terdakwa lainnya. “Menuntut supaya majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Juang Jin Sheng, Kuo Chun Hsiung, Sun Chih-Feng, Kuo Chun Yuan, dan Tsai Chih Hung masing-masing dengan pidana mati,” katanya.

Delapan warga Taiwan yang jadi terdakwa penyelundup 1 ton sabu-sabu sudah pasrah menanti putusan hakim. Kuasa mereka, Juan Hutabarat, mengatakan hal itu kepada wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (19/4/2018).

“Kalau saya lihat secara kondisi psikologis, mereka itu sudah cenderung pasrah,” kata Juan. Ia menambahkan, meski kedelapan terdakwa pasrah, mereka tetap berharap hakim akan memutuskan hukuman penjara, bukan hukuman mati.

“Mereka sepenuhnya menyerahkan pada apapun putusannya, tapi mereka berharap diputus dengan hukuman penjara,” kata dia.

Juan mengemukakan, dalam nota keberatan yang dibacakan pada sidang sebelumnya sudah dijelaskan bahwa mereka bukan pelaku utama tetapi hanya sebagai korban.

Dia berharap majelis hakim bisa mempertimbangkan nota keberatan tersebut sehingga memberikan sanksi hukum yang tidak maksimal.

“Kami dari penasihat hukum para terdakwa berharap hakim bisa mempertimbangkan apa yang sudah sampaikan sebelumnya (nota keberatan).

Kami tunggu keputusanya minggu depan,” kata dia. Jaksa dalam perkara itu telah menuntut hukuman mati untuk para terdakwa.

 

Baca Juga :  WNI Terjebak Sindikat Narkoba di Filipina

GAMPANGQQ | Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang

GAMPANGQQ | Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang

GAMPANGQQ | Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang
GAMPANGQQ | Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang

AGEN POKER – Perkembangan teknologi tak dapat ditolak umat manusia. Sayangnya, hal tersebut juga dijadikan ‘modus’ baru bagi para pelaku tindak kejahatan untuk menghindari endusan aparat penegakan hukum.Virtual Currency menjadi satu sektor teknologi yang memiliki ancaman tersendiri. Mengambil pengalaman kasus pembelian 9 butir ekstasi via Bitcoin oleh seorang mahasiswa Universitas Diponegoro berinisial CPS, virtual currency dinilai patut menjadi atensi aparat penegak hukum.

Ketua Himpunan Pemerhati Hukum Siber Indonesia (HPHSI) Galang Prayogo menilai, kemajuan teknologi yang tengah ‘menggempur’ Indonesia harus dijadikan tantangan bagi aparat penegak hukum untuk memutakhirkan penyelidikan maupun penyidikan.Utamanya mengenai kasus narkoba di Semarang dengan Bitcoin ini. Kasus tersebut merupakan sampel kecil dari skala yang lebih besar lagi dari fungsi Bitcoin dimanfaatkan oleh pelaku kriminal atau gembong narkoba,” kata Galang.

Menurut Galang, praktik pembelian narkoba via Bitcoin yang terjadi di Semarang bisa menjadi pintu gerbang bagi para penegak hukum untuk memahami lebih dalam mengenai virtual currency. “Karena kalau ‘partai kecil’ saja sudah menggunakan Bitcoin, apalagi yang partai besar?” ujarnya.

Menurut Galang, Indonesia yang saat ini masuk dalam kategori darurat narkoba harus memberikan atensi lebih pada transaksi via Bitcoin. “Bagi para gembong narkoba, Bitcoin menjadi ladang bisnis. Transaksi lebih aman, jadi mereka bisa mematok harga lebih murah,” katanya.Toh, pengiriman narkoba dari negara asalnya ke Indonesia menjadi mahal lantaran ‘biaya risikonya’, bukan lagi hitung-hitungan produksi. Itu kenapa narkoba via Bitcoin bisa menjadi lebih murah. Risiko terendus aliran uang dari ‘bandar yang mana’ sangat kecil kemungkinannya untuk bisa diketahui,” Galang menambahkan.

GAMPANGQQ | Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang
GAMPANGQQ | Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang

Hal itu tentu memunculkan kekhawatiran tersendiri. Galang berharap pemerintah bisa menegakkan aturan yang lebih tegas mengenai Bitcoin. Tak hanya dilarang sebagai alat pembayaran di Indonesia, melainkan juga menciptakan sebuah aturan yang memonitor para aplikator, alias penyedia jasa penukaran Bitcoin.

Karena di Indonesia ini, setiap kemajuan teknologi masuk, setiap kali itu pula evolusi kejahatan lebih cepat. Fungsi negatifnya selalu terdepan daripada efek positif yang timbul. Ini harus menjadi catatan pemerintah dan para aparat penegak hukum,” ucapnya.Diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang bernama Candika Pratama (22), diringkus jajaran BNNP Jawa Tengah.

Mahasiswa semester akhir tersebut diringkus aparat usai dirinya membeli ekstasi dari Belanda dengan menggunakan mata uang digital, Bitcoin. Pengakuan Candika, ia membeli 9 butir ekstasi berwarna hijau dengan harga Rp800 ribu. Padahal, harga pasaran ekstasi serupa jika menggunakan yang biasa seharga Rp400 ribu per butir.

Membeli menggunakan Bitcoin itu jatuhnya lebih murah. Saya membeli sembilan butir hanya Rp800 ribu. Padahal biasanya per butirnya dihitung Rp400 ribu. Hingga tertangkap petugas, saya baru transaksi sebanyak dua kali,” kata Candika seperti dikutip dari laman Situs Agen Poker Terpercaya GAMPANGQQ.

Baca Juga Artikel : Prediksi Liga Italy AC Milan vs Sassuolo

GAMPANGQQ | Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang
GAMPANGQQ | Transaksi Narkoba via Bitcoin di Semarang

GAMPANGQQ | Tio Pakusadewo Ngaku Menyesal Isap Sabu

GAMPANGQQ | Tio Pakusadewo Ngaku Menyesal Isap Sabu

GAMPANGQQ | Tio Pakusadewo Ngaku Menyesal Isap Sabu
GAMPANGQQ | Tio Pakusadewo Ngaku Menyesal Isap Sabu

AGEN POKER – Artis kawakan Tio Pakusadewo menyampaikan penyesalannya telah menggunakan barang haram. Hal ini disampaikannya sebelum polisi melimpahkan berkas kasusnya ke kejaksaan untuk selanjutnya dibawa ke tahap penuntutan di Pengadilan Negeri.

Tentunya sudah menjalani berbagai proses termasuk rehabilitasi, dan dalam kesempatan ini saya banyak berfikir dan merenung. Dan tentunya ini yang membuat saya tidak akan melakukan tindakan serupa di kemudian hari,” ujar Tio di Markas Polda Metro Jaya seperti dilansir dari laman Situs Agen Poker Terpercaya GAMPANGQQ Selasa 3 April 2018.

Dalam kesempatan itu dia sempat mengucap terima kasih pada polisi karena sudah membuatnya jera memakai narkoba. Dia mengaku siap menjalani persidangan.Saya berterimakasih kepada kepolisian Polda Metro Jaya yang telah membuat saya menjadi manusia yang mengerti apa itu arti kata jera. Dan selanjutnya saya akan mengikuti proses hukum, supaya sesuai dengan yang berlaku di negara ini. Saya ucapkan terima kasih banyak,” kata dia.

GAMPANGQQ | Tio Pakusadewo Ngaku Menyesal Isap Sabu
GAMPANGQQ | Tio Pakusadewo Ngaku Menyesal Isap Sabu

Sementara itu, Kasubdit II Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Donny Alexander menambahkan selain Tio, pihaknya pun menyerahkan barang bukti ke kejaksaan dalam kasus penyalahgunaan yang menjerat Tio.

Jadi hari ini, setelah dinyatakan lengkap, kami akan menyerahkan berkas dan tersangka Tio Pakusadewo ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Barang bukti yang ikut diserahkan adalah Methaphetamine 1 gram, alat konsumsi sabu 1 buah dan i buah handphone merek LG,” ujar Donny.

Tio ditangkap di rumahnya di kawasan Ampera, Jakarta Selatan, Selasa malam, 19 Desember 2017. Dari lokasi, polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya tiga bungkus plastik klip berisi sabu dengan berat 1,06 gram, seperangkat alat untuk mengkonsumsi sabu berupa bong, cangklong dan korek api gas, serta sebuah telepon seluler. Sehari setelah ditangkap, Tio ditetapkan sebagai tersangka.

Kemudian, pada Jumat 29 Desember 2017, Tio resmi direhabilitasi di Rumah Sakit Selapa Polri, Jakarta Selatan. Tio dibawa dari Rumah Tahanan Polda Metro Jaya ke rumah sakit tersebut.Tio akhirnya menjalani proses rehabilitasi setelah assesment diterima oleh Badan Narkotika Provinsi DKI Jakarta. Namun, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono menegaskan, proses hukum kasus Tio tetap berjalan.

Baca Juga Artikel : Data dan Fakta Liverpool vs Manchester City

GAMPANGQQ | Tio Pakusadewo Ngaku Menyesal Isap Sabu
GAMPANGQQ | Tio Pakusadewo Ngaku Menyesal Isap Sabu

GAMPANGQQ | WNI Terjebak Sindikat Narkoba di Filipina

GAMPANGQQ | WNI Terjebak Sindikat Narkoba di Filipina

GAMPANGQQ | WNI Terjebak Sindikat Narkoba di Filipina
GAMPANGQQ | WNI Terjebak Sindikat Narkoba di Filipina

AGEN POKER – Dwi Wulandari, seorang Tenaga Kerja asal Indonesia (TKI) harus mendekam dalam ruangan berjeruji besi di Manila, Ibu Kota Filipina. Ibu dua orang anak itu tertangkap di bandara Manila karena kedapatan membawa narkoba jenis kokain seberat 6 kg pada enam tahun lalu atau tepatnya 29 September 2012.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah menceritakan, sebetulnya Dwi memang tidak tahu bahwa di dalam kopernya ada kokain. Dia pun mengatakan kasus Mary Jane cenderung sama dengan kasus Dwi. 2012 lalu, Dwi direkrut oleh tetangganya bernama Erna untuk dipekerjakan ke Malaysia. Dwi dibelikan tiket pesawat ke Malaysia lewat Surabaya,” ujar Anis seperti dikutip dari laman Situs Agen Poker Terpercaya GAMPANGQQ Senin 19 Maret 2018.

Baru dua hari di Malaysia, lanjut dia, Dwi dibelikan tiket untuk ke India yang disebut untuk membantu majikannya yang berbisnis kain sari. Namun, kian mencurigakan bahwa Dwi kemudian diminta untuk travelling ke beberapa negara hingga ke Peru. Dari Peru, Dwi diminta ke Manila. Dalam perjalanan ke Bandara Peru, seseorang tidak dikenal menitipkan barang yang harus diantarkan ke Manila,” kata dia.

Setelah melalui proses hukum yang panjang, akhirnya pada 22 Juni 2017 lalu Regional Trial Court Pasay City Philipina memutuskan penjara seumur hidup bagi Dwi. Pengacara yang membantu Dwi pun berupaya untuk membantu mengajukan banding karena putusan ini tidak adil dan posisi Dwi adalah sebagai korban.Proses banding saat ini, masih berjalan dan diperkirakan memakan waktu 1-2 tahun.

Anis menceritakan, Dwi memutuskan berangkat ke Malaysia pada tahun 2012 lalu, saat anak keduanya baru berusia satu tahun dan anak pertamanya sudah kelas 3 SMA.Anis bersama orang tua Dwi, anak Dwi dan berangkat ke Fillipina untuk mengunjungi Dwi.Saat tiba di penjara, Anis bersama orang tua Dwi, dan anak Dwi, harus melewati proses pemeriksaan yang ketat untuk bertemu Dwi. Di dalam sebuah ruangan akhirnya Dwi dihadirkan di tengah tamu yang datang dari Indonesia itu.

Dari kejauhan saya sudah tahu bahwa air mata Dwi sudah basah dan tumpah saat memeluk anaknya, sangat lama. Semua yang ada di sana menangis. Air mata saya jatuh, dada sesak sekali, di kejauhan bayangan seperti Marry Jane dan Mery Utami seperti melintas,” ujar dia.Suasana pun semakin haru, ketika Dwi memeluk anak bungsunya, Fafa yang masih berusia enam tahun yang selama ini hanya mengenalnya dari suara, karena pada saat ditinggal Fafa masih bayi.

Fafa dipeluknya lama sekali, lalu dilepas sembari melihat wajahnya dan bergumam pendek ‘kamu sudah besar-besar sekali, sekolah yang pintar ya nak,” ujar Anis menceritakan suasana di sana. Anis melanjutkan, setelah kunjungan di hari pertama, Fafa mengatakan bahwa besok kalau berkunjung ke penjara lagi, dia akan menginap di sana bersama ibundanya, Dwi.

Kami hanya bisa saling berpandangan dan menahan air mata merespons keinginan Fafa,” ujarnya.Dia menambahkan bahwa di Filipina sempat bertemu dengan pengacara lama dan pengacara baru yang akan mendampingi Dwi dalam proses banding.Pengacaranya optimis bahwa dalam banding bisa dibebaskan karena posisi dwi sebagai korban, sebagaimana Marry Jane,” tutup Anis.

Baca Juga Artikel : Politikus Kencani Waria dan Tewas Telanjang

GAMPANGQQ | WNI Terjebak Sindikat Narkoba di Filipina
GAMPANGQQ | WNI Terjebak Sindikat Narkoba di Filipina

GAMPANGQQ | Rutan buaya bandar narkoba gagal terwujud

GAMPANGQQ | Rutan buaya bandar narkoba gagal terwujud

GAMPANGQQ | Rutan buaya bandar narkoba gagal terwujud
GAMPANGQQ | Rutan buaya bandar narkoba gagal terwujud

AGEN POKER – Beberapa waktu lalu publik sempat ramai dengan gagasan Kepala Badan Narkotika Nasional atau BNN saat itu, Budi Waseso alias Buwas yang akan membuat penjara khusus bagi para pengedar narkoba di tengah-tengah kandang buaya. Namun sayangnya Rutan Buaya khusus para pengedar narkoba itu hingga saat ini belum terwujud. Sementara Buwas sudah purnatugas mengakhiri masa jabatannya sebagai Kepala BNN.

Buwas menjelaskan, alasan dirinya menggagas rutan khusus bagi para pengedar narkoba itu lantaran masifnya gerakan para sindikat atau bandar narkoba yang bergerak dari balik jeruji penjara. Bahkan Buwas menyebut, dari total kasus peredaran narkoba yang berhasil diungkap selama dirinya menjabat sebagai Kepala BNN, 50 persen lebih digerakkan oleh narapidana narkoba dari dalam lembaga pemasyarakatan atau lapas.

Evaluasi pada saat itu, 50 persen pengendalian narkotika itu dari lapas dan sampai hari ini terbukti. Kenapa? karena yang jaga masih bisa berkolaborasi, karena dapat diintervensi dengan materi. Narkotika ini kejahatan yang luar biasa dan uangnya juga luar biasa, kemarin terbukti satu jaringan 6,4 T, bayangkan uang sebanyak itu, mereka bisa mempengaruhi oknum petugas lapas,” kata Budi Waseso di Gedung BNN, Jakarta Timur, Senin 5 Maret 2018.

Ia melanjutkan, sebenarnya gagasan membuat rutan khusus para bandar narkoba di tengah-tengah kawanan buaya bukanlah rencana yang mengada-ada alias bercanda. Menurutnya, kandang buaya untuk para pengedar narkoba adalah salah satu gagasan serius untuk melawan upaya peredaran narkoba yang sudah sangat memprihatinkan.

Ini persoalan besar. Kalau sistem tidak dibangun dengan baik maka kejadiannya akan berulang, maka sebenarnya kalau sistem yang ada tidak diperbaiki maka ya sudah yang jaga mereka (para bandar narkoba) sekarang adalah buaya,” ujarnya seperti dilansir dari laman Situs Agen Poker Terpercaya GAMPANGQQ.

Ketika disinggung hal yang menjadi penyebab belum terwujudnya ide atau gagasan lapas khusus itu hingga dirinya pensiun, Buwas menyatakan hal itu seharusnya menjadi pertanyaan ke Kementerian Hukum dan HAM yang paling berwenang mewujudkannya.

Menurut Buwas, secara pribadi serta kelembagaan, dirinya sudah menyampaikan secara langsung kepada Presiden Joko Widodo terkait rencana menempatkan para gembong narkoba itu di pulau khusus yang dijaga buaya-buaya. Presiden Joko Widodo pun, lanjut Buwas, sudah setuju akan gagasan itu dan sudah menyerahkan konsep itu kepada Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Dan itu sudah saya sampaikan ke Kemenkumham untuk terus dilanjutkan ke Presiden dan beberapa kali Presiden menegaskan dalam rapat kabinet kepada Menkumham sebagai penanggung jawab bahwa konsep tentang tahanan narkotika yang terpisah dan tersendiri segera direalisasikan itu sudah tercetus dan dua kali saya sudah dengar langsung dan selama anggarannya ada, akan direalisasikan,” kata Buwas mengisahkan.

Bahkan, Presiden menyampaikan tidak perlu anggaran, kalau perlu langsung aja (anggarannya) itu dengan menjual aset tahanan yang ada untuk mendanai. Jadi itu bukan kewenangan saya ya, tahanan khusus itu adalah cara saya berpikir untuk membantu kepada instansi lain yang berwenang,” lanjut mantan Kabareskrim ini.

Baca Juga Artikel : Prediksi Serie A AC Milan vs Inter Milan

GAMPANGQQ | Rutan buaya bandar narkoba gagal terwujud
GAMPANGQQ | Rutan buaya bandar narkoba gagal terwujud

GAMPANGQQ | Roro Fitria Menangis Terus Sejak Ditahan

GAMPANGQQ | Roro Fitria Menangis Terus Sejak Ditahan

GAMPANGQQ | Roro Fitria Menangis Terus Sejak Ditahan
GAMPANGQQ | Roro Fitria Menangis Terus Sejak Ditahan

AGEN POKER – Roro Fitria ditangkap Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Rabu, 14 Februari di kediamannya di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan karena penyalahgunaan narkoba. Sebagai salah satu penyuluh antinarkoba, Roro mengaku sangat menyesal dirinya justru menjadi korban narkoba.Roro juga mengatakan, bahwa dia baru beberapa bulan memakai narkoba. Dia mengaku, terjerat narkoba karena pengaruh buruk dari rekan-rekan artris yang mengajaknya mengonsumsi narkoba.

Seperti dikutip dari laman Situs Agen Poker Terpercaya GAMPANGQQ Sabtu 17 Februari 2018, penangkapan Roro berawal saat Unit II Subdit I mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, tepatnya di samping showroom Suzuki sering dilakukan penyalahgunaan narkotika jenis sabu. Pelakunya seorang laki-laki dengan nama panggilan WH.

Menurutnya, selama ini dia diberi narkoba oleh rekan-rekan artis tersebut. Dan wanita yang mengaku terakhir kali memakai narkoba sebulan lalu itu mengatakan, baru pertama kali membeli sendiri narkoba dengan perantara fotografernya berinisial WH.Untuk pemesanan sabu baru pertama kali. Sebelumnya saya tidak beli. Baru kali ini saya beli. Sebelumnya (memakai) bersama dengan rekan-rekan artis,” katanya.

Jadi hari ini Roro sama saudara WH masih dalam pemeriksaan tambahan karena memang masih ada orang-orang yang belum diamankan. Jadi tadi saya tidak bicara banyak, cuma support moril saja,” kata Sunan di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

Dia menuturkan, narkoba yang dipesannya itu akan digunakan pada malam Valentine untuk dirinya maupun bersama dengan rekan-rekan artis. Sementara itu, Roro mengaku sangat sedih karena perbuatannya lantaran selain sebagai publik figur.

Selain itu, dia juga kesal dan malu lantaran dia salah satu penyuluh antinarkoba. Selama ini memang diketahui Roro merupakan salah satu selebriti yang aktif menjadi penyuluh bahaya narkoba bersama Sunan Kalijaga dan selebriti lainnya.

Betapa sedih, terpukulnya saya dan saya akui saya salah. Saya menyesal dan punya beban moral yang sangat berat, bahkan ketika bicara ini saya sangat sedih karena saya biasa yang menyuluhkan ke rekan artis dan kalangan muda (bahaya narkoba) justru tidak bisa mengemban dengan baik amanah ini dan malah terjerumus,” tuturnya sambil terisak.

Karena itu, dia meminta maaf kepada orangtua dan keluarga besarnya serta para penggemarnya serta seluruh generasi muda. Dia pun mengaku tak akan mengulangi perbuatannya tersebut.Saya mohon maaf. Saya benar-benar menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Ini cambukan dan warning buat saya. Sekali lagi saya minta maaf,” ujarnya.

Baca Juga Artikel : Leipzig Bungkam Napoli di San Paolo

GAMPANGQQ | Roro Fitria Menangis Terus Sejak Ditahan
GAMPANGQQ | Roro Fitria Menangis Terus Sejak Ditahan